Selasa, 23 Agustus 2016

Panjang x Lebar x Tinggi



Panjang x Lebar x Tinggi

Salam Move On, dari saya pria biasa yang selalu ingin bisa. Tidak pernah juara kelas juga tidak pernah tidak naik kelas.

Di zaman saya untuk jadi juara kelas harus bisa menguasai dan mengumpulkan nilai tertinggi diberbagai mata pelajaran. Dan itu mungkin jadi salah satu alasan saya tidak pernah juara kelas. Karena saya tidak menguasai dan menyukai semua mata pelajaran. Terutama matematika yang pernah mencetak nilai 5 di rapport.

Bagi saya pelajaran berhitung seperti matematika tadi memusingkan. Bisa membikin mual dan mengundang vertigo. Karena lebih senang dan mudah menghafal tulisan dibanding angka atau numeric. Dari sekian rumus matenatika yang pernah mampir di otak, hanya rumus panjang x lebar x tinggi lah yang sampai saat ini masih diingat. Ya. Rumus tadi selain berguna menghitung volume juga ada filosofinya. Filosofi ini sendiri saya dapat dari sahabat saya seorang business coach.

Jika di pelajaran matematika untuk menghitung volume adalah P x L x T. Maka di kehidupan untuk mendapatkan keberkahan rezeki juga memakai rumus uang sama. Rumus pertama:
1. P (Panjang). Panjangkan pikiran (ilmu) kita. Dengan cara apa? Perbesar kapasitas yang dimiliki
2. L (Lebar). Lebarkan amal (action) kita. Setiap impian selain butuh ilmu dan perencanaan juga butuh action. Hukum probabilitas berlaku. Semakin banyak kita mencoba, semakin besar peluang kita untuk memenangkan dan mendapatkan.
3. T (Tinggi). Tinggikan hati (iman) kita. Dengan menggantungkan harapan pada yang Maha Tinggi kita tidak akan pernah kecewa.

Inilah 3 dimensi manusia. Memiliki panjang, lebar dan tinggi untuk bisa mengukur isinya. Dengan rumus ini rezeki yang dimiliki akan menjadi berkah dan hidup kita akan semakin lapang.

Senin, 22 Agustus 2016

Asalnya Dari Mana Mas



Salam MOVE ON dari Saya, pria BIASA yang ingin selalu BISA. TIDAK pernah JUARA kelas juga TIDAK pernah tidak NAIK KELAS

"Asalnya dari mana mas?"

Pertanyaan ini pasti sering kita dengar dan dapat dari seorang yang baru kita kenal. Tanpa bermaksud sekedar basa basi, jawaban pertanyaan tadi bisa menjadi menarik atau tidaknya topik pembicaraan selanjutnya. Karena kebanyakan dari kita, akan merasa aman dan nyaman dengan orang yang punya kesamaan. Dalam hal ini terlebih jika punya kesamaan daerah asal. Ya, orang akan merasa lebih dekat jika punya persanaan dengannya. Misalkan ketika kita berkunjung ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, tiba-tiba ada orang bertanya pertanyaan diatas dan kebetulan dia sama-sama dari daerah yang sama dengan kita. Apa yang kita rasakan? Dalam hati pasti ada rasa "akhirnya ada juga yang dari daerah gue". Sadar atau tidak timbul rasa aman dan nyaman.

Pertanyaan selanjutnya dari "asalnya atau aslinya darimana" adalah dengan menyebutkan icon atau brand dari daerah tersebut. Bisa oleh-oleh khasnya, tempat wisata, tempat kuliner, belanja, dan hal lain yang menjadi daya tarik dan membuat daerah tadi terkenal. Bagi daerah atau kota yang sudah punya brand tadi pasti bakalan mudah dikenal orang di luar sana. Bagaimana jika Kota kita belum dikenal orang karena belum ada icon yang dikenal luas? Seperti ketika saya ditanya asalnya dari mana dan dijawab dari Kota Banjar. Apakah Anda mengenal dan tahu dimana Kota yang saya sebutkan? Kebanyakan mengenalnya "Jauh amat. Banjar Kalimantan?" atau "Banjarnegara ya?". Sedikit saya tersenyum sambil menjawab "Kota Banjar Jawa Barat". Sedikit saya tambahkan kota kecil dengan sejuta impian.

Mungkin diantara Anda ada yang mengalami hal sama. Tidak ada icon khas yang membuat Kota Anda dikenal. Jika memang kota kita tidak dikenal karena oleh-olehnya, tempat wisata, pusat kulinernya, dan tempat belanjanya kita bisa jual yang lain. Jual BRAND kita. Ya. Kita sendiri punya BRAND (Nilai diri) yang bisa dipromosikan pada orang. Lewat apa? Bisa lewat sikap dan kepribadian. Misalkan ketika kita bertemu dan berinteraksi dengan orang baru, akan selalu ada setereotip (penilaian generalis) pada orang tadi. Kita bertemu orang dari Kota X yang kita bahkan orang pun belum tahu itu dimana dan apa ciri khasnya. Namun begitu kota berinteraksi dengannya, ketika terbangun kenyamanan berkomunikasi kita bisa langsung menilai dengan cepat apakah orang tadi asik dan menyenangkan atau tidak. Jika TIDAK mengasikkan karena orang Kota X tadi tidak sopan bicaranya, dekil, atau bau badannya. Sadar atau tidak, akan muncul penilaian cepat dari diri kita seperti "Ternyata orang kota X itu pada dekil, bau, dan gak sopan ya!" dalam hati. Padahal bisa jadi tidak semuanya seperti penilaian kita tadi.

Bagaimana kalau sebaliknya? Orang dari kota X tadi bicaranya sopan, ucapannya penuh ilmu, lembut dan rapi. Apa yang akan jadi penilaian kita? Dalam hati berkata "Ooo ternyata orang kota X asik dan sopan-sopan ya" seketika setigma buruk apapun terkait kota X tadi akan terkikis. Bisa saja sebagian orang menilai orang kota X "gak asik" tetapi begitu bertemu dan berinteraksi dengan kita, sangkaan mereka jadi berubah. Right? Yang tadinya menyangka "Orang kota X memang gitu. Gak tau sopan santun". Dan begitu mengenal kita mereka berkata "ternyata orang-orang kota X tidak seperti yang dikatakan banyak orang. Buktinya mereka ramah-ramah dan sopan santun".

Masing-masing dari kita punya BRAND sendiri. Yang kemanapun kita pergi akan mencerminkan lingkungan kita tinggal. So, temukan nilamu dan bangun BRAND Anda.
Saya Fazar Firmansyah.

Jumat, 12 Agustus 2016

Asiknya Belajar Sambil Digaji



Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang bisa menjadi guru. Dan setiap waktu adalah hal terbaik untuk belajar. Belajar bisa dimana pun, kapan pun, dan dari siapapun Tanpa harus terbatasi ruang dan waku. Terlebih di era digital sekarang ini. Semua informasinya bisa didapat dengan mudah dengan sekali sentuhan dalam genggaman.

Tak mengherankan jika ada sebagian orang berpendapat kalau waktu adalah hal yang sangat bernilai dan berharga mahal. Karena seperti aliran sungai yang tidak akan mengaliri tempat yang sama. Waktu pun demikian. Tidak bisa diputar ulang. Kita diciptakan dalam keadaan yang sama (lapar dan bodoh). Artinya masing-masing dari kita punya peluang dan kesempatan yang sama, tergantung bagaimana cara kita memaksimalkannya. Dari mulai kita lahir sampai sekarang, waktu yang diberikan untuk kita hanya 24 jam sehari. Tugas kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya (manfaat). 

Dari 24 jam waktu yang diberikan, sudahkah kita membagi sesuai porsinya? Berapa persen untuk beribadah, belajar, hingga bermain asyik menikmati ciptaanNYA. Jangan sampai kita protes dan mengutuk keadaan ketika melihat keberhasilan orang lain sementara kita masih disitu-situ aja, masih begini-begini aja (stagnan). Padahal waktu yang diberikan sama. Tanpa perlu mencari kambing hitam, bukankah lebih baik kita bercermin dulu? Jangan tanya KENAPA karena itu hanya akan melahirkan jawaban alasan. Tapi bertanyalah BAGAIMANA, karena darisanalah kita akan menemukan jawaban dari permaslaahan.

Bagi yang masih sekolah dan kulliah, itu sudah pasti dikategorikan sedang belajar. Meskipun tidak sepenuhnya yang sekolah dan kuliah datang membawa niat untuk belajar (benar). Bagi yang sudah bekerja atau berwirausaha pun sebenarnya sama. Sama-sama sedang belajar. Bedanya mereka belajar sambil dibayar. Asik kan? Disamping dapat ilmu dapat uang juga. Lengkap sudah. Maka nikmat mana yang kalian dustakan?

Apapun profesi kita, dimanapun kita bekerja atau mempekerjakan. Jangan sampai kita hanya menukarkan tenaga dengan gaji (uang). Selain ibadah, ada proses belajar yang sedang dan harus kita nikmati. Saat kita bekerja sebenarnya kita sedang belajar. Belajar memikul tanggung jawab. Belajar bekerjasama. Belajar bersosialisasi dan adaptasi. Belajar mengenal karakter orang (rekan). Dan belajar banyak hal lainnya yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya. Kalau terus menerus dilakukan, ilmu yang kita miliki bisa terus bertambah dan bisa menjadikannya skill. Maka sungguh rugi jika kita kerja hanya menukarkan waktu dengan tenaga kita untuk mendapatkan imbalan (gaji) tapi tidak mendapatkan apa-apa alias pengalamannya nol besar sekalipun masa kerjanya sudah belasan tahun.

Jangan mau jadi robot yang setiap hari melakukan rutinitas yang sama. Sebab rutinitas bisa membunuh kreativitas. Manfaatkan waktu sebaik mungkin., Jangan sampai penyesalan datang menghampiri. Usir rasa penyesalan dengan penuh syukur dan mau terus untuk menjadi pembelajar. Kerja hanya untuk uang itu capek dan tidak akan bisa kita nikmati. Karena hal tadi menjadikan kita diperbudak uang. So, apapun profesi kita, dimanapun kita bekerja. Teruslah belajar dan tetaplah merasa lapar akan ilmu.

Kamis, 11 Agustus 2016

Apa Yang Sudah Dilakukan Dengan Waktu?

Percaya atau tidak, dalam hukum probabilitas, semakin banyak kita mencoba semakin besar juga peluang kita untuk berhasil. Tanpa banyak mencoba kita tidak akan tahu sudah sejauh mana kita berhasil. Karena pada akhirnya keberhasilan selalu membutuhkan waktu. Ada yang cepat dan ada yang panjang. Namun bukan perkara soal waktu yang harus dipermasalahkan. Melainkan apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki. Sekalipun usaha yang dilakukan kita dengan orang lain sama. Hasilnya bisa berbeda. Kita tidak bisa membandingkan keberhasilan orang dengan yang kita raih. Sebab tantangan dan visi dalam meraihnya jelas berbeda. 

Di kehidupan nyata ada yang sekolah ditempat yang sama, mendapatkan guru yang sama, dan usaha yang dilakukan pun boleh dikatakan sama-sama dalam perjuangan. Namun hasil akhirnya terkadang tidak sama alias berbeda. Si A bisa berhasil dalam waktu singkat. Sementara si B harus menunggu panjang. Setiap orang punya masanya tersendiri. Bukan waktu yang harus disalahkan. Tapi kitalah yang harus bertanya "Apa yang sudah dilakukan dengan waktu yang dimiliki?"

Kalau kata orang "habiskan saja jatah gagalmu" dan "teruslah berjuang sampai habis kegagalanmu" tapi nyatanya keberhasilan belum juga dalam genggaman, itu artinya kegagalan kita belum habis. So, teruslah berjuang dan perbanyaklah percobaan sampai jatah kegagalan kita habis. Never Give Up!

Senin, 08 Agustus 2016

Jangan Minder Jadi Anak Average



Tak perlu MINDER jadi anak AVERAGE.

Menjadi seorang juara yang penuh prestasi, punya kecerdasan tinggi, dan bakat mumpuni mnejadi kebanggaan tersendiri dalam torehan sejarah hidup. Bagi mereka yang mempunyai kualifikasi diatas rata-rata mungkin akan dengan mudah mendapatkan raihan tadi untuk mengukir prestasi. Bagaimana dengan mereka yang kualifikasinya biasa-biasa saja atau bahkan dibawah standar? Pastinya butuh perjuangan extra. Dari mulai extra belajar, extra berdoa, dan extra bersabar.

Terlahir menjadi anak average dengan bakat dan potensi yang belum sepenuhnya diketahui dan dimaksimalkan memaksa kita untuk bisa menemukannya dan terus dieksplorasi. Hal inilah yang dialami saya, seorang anak biasa yang selalu ingin bisa. Saya termasuk golongan anak average. Tidak pernah juara kelas, juga tidak pernah tidak naik kelas. Namun punya rasa keingintahuan yang cukup tinggi. Meskipun tidak setiap hal ingin diketahui. Hanya yang benar-benar yang sesuai minat saja.

Melihat teman-teman dan orang lain mendapatkan predikat juara dengan segudang prestasi kadang membuat kita menciut dan merasa kerdil bagi sebagian orang. Minder kerap kali muncul disaat kita membandingkan kelebihan yang dimiliki orang lain dengan kelemahan yang dimiliki diri. Dengan kata lain bisa dibilang minder adalah awal kemunduran. Bagaimana mau maju kalau kita minder dan terpenjara dalam rasa ketidakmauan kita untuk belajar.

Ada 4 cara untuk bisa terlepas dari belenggu rasa minder:

1. Bersyukur. 
Dengan mensyukuri karunia yang telah diberikan-NYA kita jadi bisa memaksimalkan potensi dan kelebihan diri.

2. Fokuslah pada kelebihan
Jangan terpaku dan fokus pada kekurangan. Fokuslah pada kelebihan dan jangan pernah membandingkan kelebihan orang lain dengan yang kita miliki. Bandingkanlah diri kita kemarin dengan hari sekarang dan seterusnya.

3. Bergaul dengan lingkungan positif
Cari lingkungan yang tidak hanya berperilaku positif tapi juga mendukung potensi kita dan mau menerima kita dengan segala potensi diri yang dimiliki.

4. Selanjutnya hilangkan alasan, tumbuhkan harapan. Buang keraguan dan hadirkan kemauan.

Jangan minder menjadi anak average. Karena kalau bukan kita yang bisa mengubah diri ini, siapa lagi? Minder adalah awal dari kemunduran. Dan terlahir jadi anak average adalah modal utama untuk bisa menjadi yang luar biasa. Dan membuktikan pada semua orang jika kita BISA dan mampu menjadi yang LUAR BIASA.

Dari: Anak biasa yang ingin selalu bisa.

Rabu, 03 Agustus 2016

Melihat Dengan Kedua Mata



Melihat Dengan Kedua Mata

Kita diberi dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara. Dan diberikan dua mata, agar kita bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas dan hati-hati. Ya, kata terakhir "hati-hati" memberikan kita peringatan bahwasannya apa yang pernah dan sedang kita lihat saat ini, haruslah yang memang seharusnya. Karena pada akhirnya apa yang kita lakukan baik langsung maupun tidak, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Termasuk dengan mata dan pandangannya.

Kadang kita sering, beberapa kali  melihat hal atau peristiwa dengan kaca mata kita sebagai sudut pandangnya. Tanpa mempedulikan sudut pandang orang lain. Memang, dalam menasehati seseorang jika nasehat tersebut ingin mudah diterima, gunakanlah kaca mata atau sudut pandang mereka. Jangan gunakan kaca mata kita sendiri. Artinya jangan memaksa orang lain melakukan hal sesuai yang kita inginkan tanpa bisa memahaminya terlebih dahulu. Karena tak selamanya yang terlihat itu sama dengan yang sedang dirasakan. Kadang ada yang sering tampak tapi tak memberi dampak. Ada juga yang jarang tampak namun memberi dampak.

Apa yang sedang kita lihat, boleh jadi tidak benar-benar seperti yang terlihat. Bisa saja kita melihat segala sesuatunya terasa baik, tapi yang dirasakan orang lain sebaliknya. Bisa jadi kita melihat orang lain baik-baik saja tidak ada apa-apa, tapi siapa yang tahu mereka menyimpan rasa yang tidak dirasakan apa yang disangka dan terlihat oleh kita.

Inilah hidup yang punya banyak rasa. Memaksa kita untuk pintar merasa. Bukan merasa pintar. Seperti apa yang pernah saya dengar perihal perspektif salah seorang teman. Menurutnya idealnya jika sudah menikah lebih baik berpisah dengan orangtua. Baginya tinggal serumah dengan orangtua setelah menikah tidak akan membuatnya berkembang. Bahkan menurutnya hal tersebut memalukan. Saya tidak menyatakan perspektif dan pendapat dia benar atau salah. Saya hanya berasumsi bisa jadi yang dilihatnya tidak benar-benar nyata atau tidak seperti yang ditampilkan mereka karena kita tidak bisa merasa. Mungkin menurut kaca mata atau sudut pandang teman saya tadi, apa yang dilihat benar menurutnya. Namun bagi saya, saat kita melihat persoalaan jangan lupakan pikiran dan perasaan. Keduanya harus diikutsertakan agar apa yang terlihat bisa lebih jelas dan terasa bijak. 

Jika menurut teman saya tadi idealnya setelah menikah harusnya berpisah dengan orangtua silahkan saja. Kalau itu memang menurut kaca mata dia. Sekarang bagaimana kalau dibalik? Kita melihatnya menggunakan kacamata mereka? Bisa jadi mereka belum bisa berpisah dengan orangtua karena kondisi ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kesulitan untuk bisa mencicil atau mengontrak rumah. Bagaimana kalau mereka hidup dan tinggal bersama orangtuanya bukanlah pilihan mereka sendiri, melainkan permintaan orangtuanya agar bisa menemaninya sampai akhir hayat? Bagaimana kalau pilihan mereka untuk menetap bersama orangtuanya adalah sebagai bakti dan balas budinya pada mereka, agar bisa lebih sering menghabiskan waktunya dengan orangtuanya? Boleh jadi hidup kita sudah mapan dan mampu hidup sendiri terpisah dari orangtua. Tapi tanya lagi pada diri sendiri. Seberapa sering kita mengunjungi dan menemani orangtua kita? Bisakah kita ada disaat mereka membutuhkan kita? Atau justru kita menolak pintanya dengan alasan sibuk karena kerjaan atau bisnis dan lain sebagainya? Saya tidak membenarkan atau menyalahkan sudut pandang saya maupun teman saya tadi. Karena semuanya kembali pada pilihan masing-masing.

Bukan berarti mereka yang serumah dengan orangtua atau mertuanya itu memalukan. Bisa saja itu bukan permintaan mereka. Melainkan permintaan orangtua atau mertuanya. Atau bisa saja mereka ingin bisa hidup bersama agar bisa merawat dan menghabiskan bakti pada orangtuanya sampai Allah memanggilnya.

Hidup adalah pilihan. Maka pilihlah yang terbaik. Tak perlu mempersoalkan dan memusingkan orang lain. Toh kita juga punya kehidupan yang masih banyak dikomentari orang. Pertanyaannya, jika kita terus menerus sibuk mengomentari hidup orang dengan sudut pandang kita yang saklek dan dirasa paling benar. Kapan kita mengurusi dan memperbaiki diri?
 

Selasa, 02 Agustus 2016

Rencana Jadi Bencana

Hidup kadang tak sesuai rencana. Tapi hidup tanpa rencana sama halnya mengundang bencana hidup.

Kita seringkali meminta segala sesuatunya berjalan dengan semestinya. Melangkah dalam kepastian. Dan berharap apa yang direncanakan berubah menjadi nyata. Meski kadang segala upaya yang telah dilakukan sudah dirasa baik, lantunan doa tanpa surut terpanjat, dan niatan sudah kuat sejalan dengan keyakinan. Tetap saja ada rasa kekecewaan saat semuanya tidak seperti yang tergambarkan. Terlebih bagi kita yang tidak memahami keihklasan.

Ketidakmengertian kita tentang keikhlasan adalah sumber penyebab rasa kecewa. Bahwasannya sebaik dan sebagus apapun rencana yang kita buat. Jika pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang direncakan, bukan berarti doa kita tidak dikabul, usaha kita gagal, dan harus menanggung malu. Sebaliknya, kita akan mendapatkan hal yang jauh lebih indah yang tidak pernah kita kira diluar rencana yang kita buat. Rencana kita memang dirasa paling bagus dan indah. Tapi rencana-NYA jauh lebih indah dan lebih bagus. Kita hanya manusia sebagai pelaku yang kadang sok tahu. Sementara DIA adalah penentu kehidupan dan Yang Maha Tahu. Lantas atas dasar apa kita yang tidak tahu menahu apa-apa dan hanya pelaku merasakan kekecewaan yang begitu amat mendalam? Apa hak kita memprotes keputusan-NYA? 

Hidup memang harus punya rencana jika kita tidak ingin menjadi bagian dari rencana orang lain. Tapi bukan berarti setiap dari apa yang telah kita rencakan harus selalu terkabul dan sesuai keingingan bukan? Jika setiap doa selalu terkabul, darimana kita belajar bersabar? Jika semua usaha selalu menghasilkan, darimana kita belajar kerja keras? 

Dan sekarang mulailah menyadari. Mulailah belajar berprasangka baik. Dan mulailah menyadari peran kita disini hanyalah pelaku. Bukan penentu dan sutradara.