Harta sudah pasti rezeki. Dan tidak semua rezeki berbentuk harta. Harta diukur dari banyak ...



Harta sudah pasti rezeki. Dan tidak semua rezeki berbentuk harta.
Harta diukur dari banyak sedikit yang dipunya. Rezeki diukur dari lapang sempitnya yang diterima.

Kadangkala kita sering terfokus pada pemikiran harta sama dengan rezeki. Padahal harta hanya bagian dari rezeki. Rezeki banyak bentuknya. Mulai dari yang terlihat dan yang tak kasat mata namun bisa dirasa.

Tidak semua yang punya harta banyak memiliki rezeki yang lapang. Koruptor misalnya. Gajinya ratusan juta. Tapi keluarganya berantakan, hidup dibalik jeruji, hartanya habis dipakai berobat, dan penderitaan hidup lainnya. Disatu sisi mereka kaya dengan harta yang dipunya. Tapi rezeki mereka sempit. Ada juga yang penghasilan per bulannya hanya 2 juta, tapi hidupnya sederhana, keluarga rukun, sehat, dan mampu menyekolahkan dan membiayai 3 orang anak. Satu sisi hartanya memang tidak banyak. Tapi rezekinya lapang.

So, rezeki tak selalu berbentuk harta. Bisa kesehatan, istri soleha, sahabat yang soleh, ketenangan hidup, dan hal tak kasat mata lain yang dirasa. Dan biasanya aset yang tak terlihat itu harganya jauh lebih mahal dari yang terlihat.

Semoga kita semua di lapangkan rezekinya juga dikaya-kan.

Salam berkah berlimpah

Setiap orang ingin jadi pemenang. Tapi tidak semuanya punya mental pemenang, yang siap bertarung meski kalah jadi taruhan. Jika diibaratkan...

Setiap orang ingin jadi pemenang. Tapi tidak semuanya punya mental pemenang, yang siap bertarung meski kalah jadi taruhan. Jika diibaratkan, hidup itu seperti peperangan. Harus siap menang dan terima kalah. Life is competiton! #FastabiqulKhairat



Untuk menjadi pemenang itu mudah, sekalipun harus melewati kompetisi. Tidak ada pemenang yang tidak pernah menjuarai kompetisi. Dan dalam kompetisi tadi, kita semua punya peluang yang sama. Yang membedakan hanya niat. Jika niat diawal kompetisi sudah extra mile, practice like a champion, dan menyusun strategi untuk menang akan lebih mudah. Lain halnya jika diawal kompetisi niatnya sudah ingin disuapin, menang dengan mudah, tak mau berkompetisi, dan berharap keberuntungan menjadi pemenang, jangan harap kemampuan bersaing bisa berkembang. Apalagi jika niat bersaingnya ingin menjatuhkan lawan dengan cara licik dan busuk.

Menjadi pemenang dan yang terbaik di bidang yang dikuasai itu mudah. Cukup bermodalkan mimpi dan niat untuk merealisasikannya. Sepertihalnya seorang petinju yang ingin mendapatkan gelar petinju terbaik dunia. Untuk mendapatkan gelar tadi, dia harus bertarung menjadi juara di level negaranya. Sampai pada akhirnya memenangkan kompetisi antar negara. Untuk menyandang gelar petinju terbaik di negaranya, dia hanya cukup mengalahkan beberapa petinju lain disetiap kompetisinya. Tanpa perlu mengalahkan semua petinju di negaranya, dengan memenangkan dan mengalahkan satu dua petinju di kompetisi tadi, dia akan menyandang predikat petinju terbaik jika memenangkan kompetisi. Sebab tidak semua orang di negaranya memiliki mimpi dan niatan jadi petinju terbaik. Hanya beberapa saja yang punya mimpi dan niatan tadi.

Jadi apapun mimpi kita, menjadi pemenang itu mudah. Karena tidak semua orang punya mimpi dan niatan yang sama dengan kita. Hanya kita harus siap bersaing dengan mereka yang memiliki mimpi dan niatan yang sama. Syukur-syukur bisa bersinergi.

So, jangan takut dengan kompetisi.

Saat kita merasa jenuh dan lelah dengan rutinitas yang dijalani. Mungkin sudah waktunya kita butuh piknik. Dodol aja picnic. Masak kamu...



Saat kita merasa jenuh dan lelah dengan rutinitas yang dijalani. Mungkin sudah waktunya kita butuh piknik. Dodol aja picnic. Masak kamu nggak?

Hampir semua orang pernah berada di titik jenuh. Mulai dari pekerja kantoran, pekerja profesional, pedagang, pengusaha, sampai Rio Febrian pun pernah merasakan jenuh. Jenuh bertemankan bosan terkadang melelahkan. Terlebih apa yang dilakukan sepanjang hari adalah hal yang diulang-ulang alias itu-itu saja, tanpa adanya perubahan dan variasi setiap harinya.

Pergi pagi pulang petang, bersahabat dengan kemacetan juga asap kendaraan, dikejar deadline, sibuk dengan tumpukkan tugas, dan pekerjaan lain yang menunggu, memaksa kita ekstra fokus. Salah-salah minum air mineral, bisa gagal fokus.

Jenuh adalah sebuah kewajaran yang memaksa kita keluar untuk rehat sejenak. Balapan tercepat F1 saja butuh pit stop untuk mengecek dan me-refresh kondisi mesin, sebelum melanjutkan balapan kembali. Sama halnya dengan jenuh tadi, yang bisa kita ibaratkan menjadi pit stop diri. Disisi lain, jenuh bisa menjadi ketidakwajaran jika kita tidak bisa mengatasinya. Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa jenuh itu?

Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah
Jenuh bisa dipicu karena kurangnya bersyukur dengan apa yang dipunya. Hal ini memicu gagal fokus dan rasa berkekurangan yang tak wajar. Seperti merasa kurang dengan apa yang dimiliki, sementara di luar sana kita melihat orang-orang mendapatkan apa yang tidak bisa kita miliki. Merasa orang lain lebih bahagia dibanding kita dengan waktu dan kebebasan yang dimilikinya. Sementara kita, tiap hari bersahabat dengan office hour, kemacetan, deadline tugas, dan agenda lainnya, semakin memperparah rasa jenuh. Padahal di luar sana masih banyak yang kesana kemari membawa alamat perusahaan, cari kerja kesana kemari, sabar mengantri di job fair, sampai di-PHP-in perusahaan.

Manjakan diri
Tak ada salahnya memanjakan diri, seperti mentraktir diri sendiri misalnya. Rayakan setiap keberhasilan dan apresiasi hasil kerja kita. Sebab kita sudah bekerja keras selama satu bulan dengan menukarkan tenaga dan pikiran yang dipunya. Sepertihalnya sebuah kendaraan yang sudah dipakai berpergian lama dan jauh, butuh di-service agar tarikannya kembali kencang seperti kondisi baru. Tak jauh beda dengan kendaraan tadi, kita pun butuh relaksasi untuk me-refresh body dan otot yang mulai mengendor. Caranya bisa disesuaikan dengan hobi. Mulai dari baca buku, nonton, makan-makan, belanja, hangout, olahraga, pijat refleksi, dan lainnya.

Berliburlah
Liburan seakan sudah menjadi mantra ampuh untuk mengusir jenuh setelah melewati padatnya aktivitas. Namun tidak semua dari kita bisa berlibur secara mendadak. Butuh persiapan dan mengatur jadwal terlebih dahulu sebelum "gong" berlibur berbunyi. Terlebih jika dilakukan di akhri bulan. Berlibur adalah hak setiap orang. Tak ada salahnya merencanakan sejak jauh-jauh hari dan membuat itinerary-nya. Dengan perencanaan matang, liburan akan terasa tenang dan menyenangkan. Tanpa khawatir bekal habis di perjalanan, tersesat, bingung dengan destinasi wisata, dan terhindar dari wasting time.

Pada akhirnya, selain tigal hal di atas. Jenuh dan lelah akan hilang selama kita melakukan apa yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan, rasa syukur, dan memaknai kesibukan diri dengan bijak.

Jadi kapan kita mau liburan?

Memanah adalah olahraga yang biasa dilakukan Rasul, selain berkuda. Hampir mirip dengan catur, memanah bukan olahraga yang menguras fisi...



Memanah adalah olahraga yang biasa dilakukan Rasul, selain berkuda. Hampir mirip dengan catur, memanah bukan olahraga yang menguras fisik. Namun butuh konsentrasi penuh, fokus, juga ketenangan.

BTW ada yang suka panahan? Atau ada yang sudah punya busur panah? Saya baru punya panah asmara. Bagi yang belum punya, bisa pesan ke saya. :D

Diperhatikan sekarang sedang nge-trend-nya olahraga memanah. Dari yang tujuannya sekedar hobi, gaya-gayaan, hingga serius menekuninya. Bisa dilihat dari update postingan di berbagai kanal media. Menjamurnya komunitas memanah, menjadi berkah tersendiri bagi penjual busur panah.

Ada hikmah yang bisa diambil dari memanah ini. Tentang ikhtiar dan tawakal. Saat kita fokus membidik sasaran, menarik busur panah, konsentrasi dengan ketenangan, itulah ikhtiar. Persis saat kita mengupayakan impian. Butuh ikhtiar. Tapi ikhtiar saja tidak cukup. Butuh tawakal (berserah). Sebab ada hal-hal yang diluar kendali kita yang bisa mempengaruhi tujuan dan terwujudnya impian tadi. Seperti halnya kecepatan angin, anak panah patah tiba-tiba, tali panah putus, salah sasaran, dan lain sebagainya yang bisa mempengaruhi target sasaran. Sama halnya mengupayakan impian. Boleh jadi rencana kita sudah rapi. Tapi pada faktanya tidak sesuai harapan. Disinilah kita butuh tawakal. Sebab realitanya ada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan.

So apapun hasilnya, pasrahkan dan percayakan pada Yang Maha Tahu. Sebab itulah sebaik-baiknya untuk kita.

See u on instagram: @firmansyahfazar

Ada yang tahu joki? Bukan. Bukan joki 3 in 1 atau ujian. Tapi joki penunggang kuda. BTW kalian sudah pernah naik kuda? Mudah-mudahan ...



Ada yang tahu joki? Bukan. Bukan joki 3 in 1 atau ujian. Tapi joki penunggang kuda. BTW kalian sudah pernah naik kuda? Mudah-mudahan pernah ya, meskipun kuda yang suka ada di pasar malam, yang jalannya muter-muter. :D
Berbicara tentang joki, tak akan jauh dengan kuda. Bak seperti pasangan yang tiada duanya. Dan dari mereka juga kita bisa belajar tentang Leadership (Kepemimpinan).
Joki ibaratkan leader dan kuda adalah follower. Seorang joki (leader) pasti punya tujuan. Baik ke kiri, kanan, depan, bahkan belakang. Begitupun kuda (follower) yang memiliki tujuan yang sama. Tugas jokilah yang harus menentukan arah dan tujuan. Apakah mau berbelok ke kanan, ke kiri, atau ke depan? Tanpa tujuan dan pesan yang jelas, kuda akan kebingungan bahkan berontak dan jalan tak beraturan. Bisa jadi kuda tidak mau jalan bukan karena malas. Tapi karena kurang jelasnya perintah joki.
Begitu kuda mau mengikuti perintah kita. Joki akan memberikan apresiasi kepadanya. Seperti mengelus-ngelus pundah dan leher kuda sampai memberikan makanan kesukaannya. Namun dalam memberikan perintah dan mengendalikan kuda, joki tetap tidak boleh memaksakan hal yang menyakiti kuda bahkan menyiksanya. Seperti itupun leader.
Butuh kejelasan visi dan pesan yang lugas untuk bisa mengendalikan follower. Selain ketegeasan. Tanpanya follower akan kebingungan dan tidak mau mengikuti leadernya.
Sekian cerita malam ini.
Jadi kapan kita berkuda bareng? :D
Follow me on instagram @firmansyahfazar (bagi yang minat saja)
See u

Jika ada seseorang yang dengan bermodal keberanian dan kepercayaan dirinya menawarkan ba...



Jika ada seseorang yang dengan bermodal keberanian dan kepercayaan dirinya menawarkan bahkan menjanjikan bisa menggandakan uang seketika dan tanpa proses usaha. Lantas apakah kita langsung bisa percaya begitu saja? Sekalipun seseorang tadi berpenampilan layaknya pemuka agama, bertutur halus, dan terlihat baik. Kebaikan memang bersifat universal, sekalipun tidak mengandung kebenaran. Itulah kenapa kebaikan lebih mudah diterima oleh setiap orang.

Segala sesuatu yang tercipta di dunia ini tidak lahir begitu saja secara instan tanpa sebuah alasan dan tanpa melewati sebuah proses. Kita lahir ke dunia tidak langsung sebesar kita yang sekarang bukan? Kupu-kupu yang indah pun tidak lepas dari proses metamorfosisnya. Mie instan pun begitu dibuka dari bungkusnya tidak langsung tersaji seperti yang tergambar di bungkusnya kan? Semuanya butuh proses. Untuk mendapatkan gelar sarjana pun tetap harus melewati serangkaian proses bukan? Sekalipun kita membeli gelar dan ijazah, tetap makan proses. Bahkan pinjam uang sekalipun, tidak serta merta peminjamnya memberikan begitu saja tanpa proses bahkan syarat bukan?

Berharap dan menginginkan hasil lebih tanpa dibarengi usaha adalah sebuah kemustahilan dan menjadi penyakit yang mulai menjangkit sebagian dari kita. Hidup memang butuh proses, bukan protes. Saat kita lapar, kemudian kita berdoa meminta dihapus rasa laparnya, apakah lantas hilang rasa lapar tadi? No. Ada proses yang harus dilewati untuk menghilangkan lapar tadi, dengan makan misalnya. Ketika kita merasa lelah dan letih, kemudian kita berdoa meminta dihilangkan rasa letih tadi. Apakah rasa lelah dan letih kita seketika hilang? Sekalipun kita berdoa siang malam, rasa lelah tadi tidak akan hilang. Sebab harus ada proses yang dilewati, lewat istirahat dan tidur untuk melepas lelah dan letih tadi.

Dan jika di luar nanti kita menemukan orang-orang yang hanya bermodalkan kepercayaan diri, keberanian, dan bermuka tebal menawarkan janji-janji bisa menggandakan uang atau mendongkrak taraf perekonomian menjadi lebih baik tanpa ada usaha, lebih baik tinggalkan orang tersebut. Satu lagi, jangan pernah mempercayai orang yang berhutang. Sebab bisa jadi mereka menawarkan janji-janjinya pada saat berhutang agar keinginannya terpenuhi. Begitu inginnya telah terkabul, janji-janjinya dengan mudah dia lupakan begitu saja. Ngeri. Janji-janji pemilu misalnya. #Ooppss

-Catatan dari seseorang yang berusaha menjadi muslim disetiap musim.



Kota Banjar.

Kemudahan akses informasi dengan didukung perkembangan teknologi yang semakin hari semakin memudahkan hidup, tidak hanya membuat kita...



Kemudahan akses informasi dengan didukung perkembangan teknologi yang semakin hari semakin memudahkan hidup, tidak hanya membuat kita sebagai penggunya bisa menggunakannya dengan baik dan benar. Kadang kita mempergunakannya secara berlebihan tanpa tahu batasan. Bahkan untuk hal yang tidak penting sekalipun. Di era yang tanpa sekat tak mengenal batas, setiap orang bebas menyuarakan pendapatnya. Sekalipun yang disuarakannya hanya kritikan pedas, umpatan, cibiran, bahkan sampah. Tak heran mereka yang salah arah dan tidak memahami etika di media sosial menjadi pengumpat yang bernyali pengecut. Dibalik akunnya dengan lantang berteriak lewat tulisan, melontarkan kritikan tajam pada sasaran, mengumpat, hingga mendramatisir keadaan dengan segala konspirasi dan berita hoax yang mudah diunggah. Tapi dalam kenyataannya ketika dihadapkan dengan sasaran yang benar-benar nyata, mereka seolah bungkam tak mampu bersuara. Tak terdengar lagi suara lantang dari postingan, yang ada hanya diam dalam kebingungan menanggung malu. Pernah lihat kasus hatters yang ditangkap Deddy Corbuzier karena komentarnya yang tidak layak? Dibalik akunnya mereka dengan gagah berani berteriak melontarkan hujatan. Tapi begitu dipertemukan dengannya, nyalinya menciut hingga keberaniannya benar-benar hilang tak tersisa.

Tidak sedikit postingan berisi kegalauan, keluhan, umpatan, dan berita negatif lainnya. Sedikit-sedikit dapat ujian, langsung posting "betapa berat hidup yang dijalani" lah, "takdir tidak sayang" lah, "hidup tidak adil" lah, sampai umpatan yang mengkerdilkan iman mereka. Gagal baru sekali, ngeluhnya berkali-kali. Lucu memang jika melehihat orang dewasa yang baru diuji seperti itu, namu masih banyak ngeluhnya. Berbeda dengan anak-anak yang selalu riang dan ceria yang berlari kesana kemari bersepeda ria disekitar rumah. Sekalinya jatuh, mereka tidak meratapi hidupnya. Apa ada anak-anak yang pas berlari atau naik sepeda tiba-tiba terjatuh langsung dia berkata "Ya Allah kok hidupku berat gini ya?", "Hidup kok gak adil", "cobaan apalagi yang sedan Engkau berikan", dan hal absurd lainnya. Jawabannya nggak ada. Mungkin mereka akan menangis karena kesakitan. Selepasnya akan kembali ceria seperti biasa. Tanpa mempedulikan rasa sakit tadi, apalagi ditambah keluhan yang bisa memperkeruh suasana.

So, seberat apapun permasalahn hidup yang dialami. Janganlah diratapi, tapi dihadapi. Belajarlah dari anak kecil yang tak pernah mempersoalkan dan menyalahkan keadaan. Saat kita jatuh, jangan habiskan waktu untuk mengeluh. Bangkitlah, lawan rasa sakit itu dan bersiaplah menyambut kebahagiaan dengan suka cita.